Pengikut

Selasa, 29 November 2011

Kebudayaan Indonesia - Perkembangan dan Dampak Musik Dangdut Bagi Remaja di Jakarta Perkembangan dan Dampak Musik Dangdut Bagi Remaja di Jakarta

Sejarah Musik Dangdut
Aliran musik Dangdut lahir setelah ajaran Islam masuk ke Indonesia yang sudah bercampur dengan aliran musik India. Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang hanya di Indonesia. Bentuk musik dangdut ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (cengkok dan intonasi)
Musik ini mulai tumbuh dan berakar sekitar tahun 1940. Musik ini dipengaruhi oleh unsur musik India yang diambil dari alat musiknya yang bernama Tabla atau musik yang menggunakan gendang.Sedangkan cengkok dan harmonisasinya merujuk ke musik Arab. Akhirnya dipadukan oleh pengaruh musik barat yang mulai marak di akhir tahun 1960-an dengan menggunakan gitar listrik..Dangdut bisa dikatakan lebih matang sejak tahun 1970-an.Ciri khas musik dangdut diiringi oleh gendang suling dan joget yang gemulai.
Gaya music dangdut sangat popular dan memiliki pengaruh sangat besar pada periode Orde Baru, khususnya tahun 1975-1981. Music ini didominasi oleh denyut irama tarian (joget), dan ditujukan ke mereka yang berusia muda, yaitu para remaja. Cirri tersendiri dalam membawakan warna music ini yaitu cengkokannya, yang disebut blenggo. Dari lirik dan melodinya berkesan mendayu-dayu dengan cengkok-cengkok yang penuh lekukan memanjang pada akhir kalimatnya.
Istilah dangdut muncul pertama kali tahun 1972 atau 1973. Istilah music dangdut ini merupakan pembentukan kata yang menirukan bunyi gendang, yaitu dang dan dut, dengan suatu ungkapan dan perasaan yang menghina dari masyarakat lapisan atas (William H. Frederict, 1982).
Semangat dangdut bermula pada awal periode colonial. Pada abad 19, pengaruh-pengaruh lain turut diserap. Pada sekitar tahun 1920-an, ensamble Cina Betawi muncul dan dikenal dengan nama gambang kromong, yang merupakan percampuran instrument dan melodi Cina, Sunda, Maluku, dan Portugis. Tak lama setelah itu, ada awal abad 20 musik keroncong diperkenalkan.
Pada tahun 1940-an, keroncong dikenal dengan sebutan umum orkes Melayu (William H. Frederict, 1982), atau dapat dikatakan sebagai awal music gambus, dengan irama Melayu asli (Husein Banwafie, 1990). Pada tahun 1950-an lahir berbagai eksperimen music Melayu yang dimodernisasikan dan banyak dipengaruhi oleh orchestra barat dan irama samba serta rumba. Pada tahun 1960-an berbagai reaksi mulai muncul. Keroncong yang dimodernisasikan sering Nampak lebih elegan dan mendapatkan inspirasi dari luar negeri. Kondisi ini menjadikan para musisi mulai mencari suatu bentuk yang lebih asli, dan mereka menemukannya dalam orkes Melayu tradisional. Seorang penyanyi dari Jakarta bernama Ellya Kadam mengembangkan suatu gaya nyanyian pada produk orkes Melayu dan menciptakan suatu irama dan suara baru (dengan instrument India, Arab, dan gendang Indonesia, suling bamboo) yang meminjam dari music dalam film-film India. Ia memasukkan suatu dinamisme dan sensualitas yang unik kedalam musiknya, dan denyutannya dalam membawakan lagu “Boneka dari India” (syairnya ditulis oleh Husein Banwafie pada tahun 1956). Lagu ini dapat dikatakan sebagai lagu dangdut pertama.
Di akhir tahun 1960-an, bermunculan berbagai kelompok music yang mengadakan inovasi terhadap music. Secara mendasar, mereka memasukkan beberapa elemen music Melayu Deli dan keroncong tradisional dalam tarian mereka. Tema-tema lagu dangdut berupa kenyataan hidup masyarakat sehari-hari. Banyak yang terasa lugas, tanpa ditutupi, hingga bias diterima khalayak dan akan terasa lebih dekat dengan masyarakat (Ukat, 1990). Mulai tahun 1973 Rhoma Irama dengan kelompok Sonetanya mengadakan perombakan syair, maupun instrument music dangdut, dengan berbagai instrument music elektronik. Perombakan itu dilakukan dengan tujuan pembangunan mental spiritual dan juga sekaligus sebagai sarana dakwah. Lagu-lagu yang diciptakannya sangat bergantung pada situasi dan kondisi masyarakatnya. Dengan demikian music tidak hanya berfungsi sebagai pelepas lelah dan hiburan saja, juga sebagai media untuk menyampaikan pesan.
Dangdut sangat popular dan sangat berbeda dengan bentuk budaya modern lain di Indonesia. Secara sederhana ia tampaknya sangat berkaitan dengan selera popular yang sangat luas. Perjalanan musik Dangdut mengalami perubahan yang signifikan dari masa ke masa. Kini pada akhirnya Musik Dangdut sudah sangat terkenal tidak hanya di Indonesia namun sudah mencapai mancanegara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar